Wednesday, April 25, 2007

..:Chatterbox:..


Satu pemandangan di The Nobbies, Phillip Island, Victoria, Australia...moga menjadi penyejuk mata...penyubur rasa iman dan cinta si hamba pada Sang Khaliq...





Bismillahirrahmaanirraheem...




Salamun'alaikum pembuka bicara...berharap ianya menemui kalian semua dalam keadaan masih lagi merasai nikmat Iman dan Islam...inshaAllah, mudah-mudahan...




MashaAllah, jari-jemari ini sudah lama tidak dilatih dengan mengetip keyboard untuk blog ana ini...kekangan dan daftar agenda yang cukup banyak dan cukup menyibukkan diri membuatkan ana terpaksa mengorbankan hasrat untuk meng'update' blog...rimbunan kemaafan ana pohonkan dari sahabat-sahabat sekalian kerana kelemahan diri...inshaAllah, blogging is always going to be my part-time job..tapi ana tak mampu janji yang ana akan dapat siapkan satu entry (at least) untuk setiap bulan...jika diizinkan Allah...nescaya ter'update'lah blog ini....Walau apapun...terima kasih tak terhingga....jazakumullahu khayran katsiran atas kunjungan semua...in return, ana balas messages yang ditinggalkan di chatterbox dan tak terbalas oleh ana buat masa ini....may Allah reward you all good....Ameen..



  • Adik Maisarah : Subhanallah, dah lama rasanya kita lost contact...rasanya sekarang Mai dah ada di bumi Ireland kan? alhamdulillah, if it is true...selamat menempuhi lembaran baru dalam kehidupan bergelar 'orang asing' di daerah sana....sesungguhnya cabaran dan dugaan itu bisa mematangkan hati yang sedang mekar di bawah lembayung ISLAM....teruja akak dengan blog Mai...sebagai membalas, akak dah add blog Mai di sini..semoga dapat dimanfaatkan oleh pengunjung-pengunjung di blog akak yang amatlah sederhana ini...Wallahu a'laam...lotsa love...hugs and kisses from me afar.



  • Akhi ikhwan_cbd (aka Akhi Majdi): jazakumullahu khayran katsiran untuk doa dan sokongan yang tak putus-putus...nampaknya semua orang dalam musim peperiksaan....ana pun in the middle of exam..didoakan semoga akhi diberi kejayaan yang cemerlang di dunia dan akhirat....Amin...hayyakumullah.



  • Serikandipertama: la shukran 'alal wajib, adik Syidah sayang...akak tidak banyak membantu..tapi ketahuilah, sebaik-baik penolong dan pembantu itu adalah Allah...akak mengharapkan yang terbaik buat diri Syidah...tentang The Butterfly and The Flower..maaf sayang...akak tak dapat pastikan dari mana source-nya...cuma akak amat bersetuju dengan pandangan sahabat Syidah tentang peri-pentingnya kita untuk menyemak keshahihan sesuatu ilmu...sebab Allah pernah berfirman:

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Kerana pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." [QS17:36]


Bagi akak...ianya bukanlah sesuatu yang akak "harus" pegang...tapi lebih kepada memberi pengajaran dan iktibar...seakan pedoman hidup yang berguna...Allahu a'laam...




  • Akhi Ahmad (aka Ahmad al-Libi): Teruskan berusaha menyebarkan Islam melalui qalam..Great effort (I would say)..Mabruk akh....Selamat menjalani praktikal...semoga dapat memberi manfaat kepada orang lain (nafi'un lighairihi) ....inshaAllah, nasihat buat diri ana juga...barakallahu fiikum..Amin.



  • Adik Shue: Kangen.....rindu kat adik akak sorang ni...terkenangkan detik-detik bersama sewaktu akak pulang ke tanah air tahun lepas...diharapkan moga shue tetap teguh hati di sana...doakan perjuangan akak dan sahabat-sahabat di bumi Aussie agar tetap tegar walau apa pun menyerang...sampaikan salam sayang akak kepada Bonda dan akhawat-akhawat tercinta di bumi sana...nantikan kepulangan kami ya!



  • Kak Nurul Adni: Subhanallah, lama tak menjenguk akak di teratak 'cahaya'..lagipun, dah jarang nampak akak online di YM...kifhalik, ya ukhti? kalau tak silap Yus, akak sedang praktikal kan? inshaAllah, Allah iftah 'alaikum...doakan kita semua (akak, Kak Najwa, Yus, Aina dan Ayu) dapat grad tahun ini....dan work out "projek besar" nanti....Amin.



  • Akhi Che Rahim: Salam taaruf....nice blog, anyway...Terima kasih atas kunjungan...tentang pertanyaan akh tu, ana cuba jawab setelah tamat jihad peperiksaan nanti..inshaAllah, jika diizinkanNya...



  • Akhi Nazrulamir: Waalaikumussalam akh....webmaster datang menjenguk moderator ni...akhirnya meninggalkan jejak di teratak ana...afwan katsiran...rasanya tak sempat ana singgah di 'notes' akh...tapi kadang-kadang ana masuk tanpa meninggalkan sebarang kesan...inshaAllah, we'll see how it goes....apa perkembangan Paksi.net sekarang akh? Kalau sebelum ini, ana dan wakil-wakil dari Oz and UK yang selalu kena 'serang' in relation to Paksi...huhuh....whatever...selamat meneruskan sisa-sisa perjuangan di sana...Allah yubarak fiikum....


InshaAllah, rasanya ana dah menjawab semua message yang tergendala untuk dibalas....I wish so...if Allah wills, ana akan share satu pengalaman dengan seorang Muslim man dan Christian man yang sedikit 'mencemaskan' diri ana...mungkin ada 'ibroh yang bisa diambil darinya....Nantikan!


Jazakumullahu khayran katsiran 'ala kulli hal...



Notes: Sempat lagi mencuri masa dalam minggu imtihan sughro.....huhuh...

Friday, March 09, 2007

Bila Hidup itu Cermin...

Bila hidup itu cermin

Maka isyarat apa yang mampu menyiratkan hidup bahawa kehidupan itu adalah sosok kita

Atau... sesosok kehidupan adalah penampakan dari wujud kita yang telah terpantulkan melalui lembar-lembar perjalanan

Maka,

Bila hidup itu cermin

Seharusnya kita lebih mengerti dan memahami hidup apa dan bagaimana yang telah dan akan dilalui agar mampu menempatkan diri padanya

Bila hidup itu cermin

Seharusnya kita dapat bersentuhan lebih dekat padanya agar kita mengetahui dengan jelas benar segala kekurangan yang terpantul dari cermin itu

Namun, sayang

Kita sering menganggap bahawa hidup itu adalah cermin cembung yang selalu melebih-lebihkan kekurangan dan mengurang-ngurangkan segala kelebihan yang kita miliki

atau kita sering menganggap bahawa hidup itu adalah cermin cekung yang selalu memberikan kekecewaan pada apa yang dipantulkannya

Dan menganggap cermin kehidupan adalah wujud yang lari dari kenyataan

Padahal kalau saja kita mampu merenungkan sejenak peristiwa yang telah dialami,
baik yang memalukan mahupun yang menyenangkan adalah cerminan diri kita
yang tak sempat kita cermati bahkan luput dari pandangan mata

Cubalah mengerti, andai kita mampu melihat hidup ini seperti cermin datar
yang setiap hari kita berkaca padanya, melihat noda hitam di wajah dengan jelas
dan perlahan-lahan mulai menutupinya dengan polesan bedak atau sekadar lotion,
bukankah itu lebih mudah?

Berapa kali kita bercermin untuk sekadar memperindah penampilan jasad?

Namun,

Ketika itu, sudahkah kita bercermin dengan kehidupan, menutupi kesalahan dengan
amal soleh yang kita perbuat dan menjadikan kelebihan sebagai jalan untuk dekat
denganNya seperti yang tiap hari kita lakukan

Sudahkah?

Atau memang kita malu untuk melihat segala kekurangan kita, melalui cermin kehidupan yang ada di depan mata?

Wednesday, February 07, 2007

Perihal Iman itu...


“Wahai saudaraku! Tahukah kamu akan perkara yang merisaukan hati kecilku ini?” soal Saidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Hudzaifah Al-Yaman yang terkenal dengan sifat mulianya dalam menjaga kerahsiaan dengan sempurna.

“Mengapa wahai saudaraku, Abu Bakar? Ceritakanlah kepadaku, barangkali ada ‘ibroh yang bisa diambil darinya,” ujar Hudzaifah dengan nada yang lembut.

“Aku sedari yang aku tidak bisa berpisah dengan Rasulullah SAW. Kuperhatikan, sewaktu aku bersama Baginda, terasa imanku begitu melonjak tinggi. Namun, setelah aku jauh dari pandangannya dan pulang ke pangkuan keluargaku, ternyata imanku sedikit menurun. Munafik-kah aku wahai saudara seaqidahku?” Abu Bakar memberikan penjelasan, tapi kali ini nadanya seakan sedikit risau.

“Subhanallah, sampai begitu sekali fikiranmu. Begitu telitinya engkau dalam menjaga kesihatan ruhiyy-mu. Aku pun turut merasai perkara yang sama. Menurut pandanganku yang dhaif ini, eloklah kiranya kita bertanyakan langsung pada Rasulullah. Aku pasti Baginda mampu menghilangkan kerisauan yang timbul di hati kita ini. inshaAllah,” jawab Hudzaifah dengan penuh yakin.

Setelah disepakati, akhirnya Saidina Abu Bakar dan Hudzaifah lantas berjumpa dengan Rasulullah, pesuruh Allah bagi mendapatkan penyelesaian kepada masalah yang mereka hadapi.

MashaAllah, bijaknya Rasulullah dalam memberikan jawapan kepada mereka berdua. Baginda lagi memberikan perumpamaan untuk mereka berdua fikirkan. Kata Rasulullah, “…seandainya iman kamu sentiasa di atas dan tiada naik turunnya, nescaya semua Malaikat pasti akan turun ke bumi lalu berjabat tangan dengan kamu…”

Sahabat-sahabat yang ana kasihi sekelian,

Kisah di atas adalah satu kisah yang benar-benar terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Namun, dialog-dialognya hanyalah rekaan ana semata-mata, tapi inshaAllah masih lagi mengekalkan keaslian maksudnya. Cuma, ana berharap agar antum dapat mengambil sedikit pengajaran dan dapat menangkap mesej yang cuba ana sampaikan buat bekalan antum kali ini…khayr, inshaAllah.

Pertamanya, ana menyeru diri ana sendiri dan juga sahabat-sahabat sekelian untuk melafazkan setinggi-tinggi kesyukuran kepada Allah SWT atas nikmat Iman dan Islam yang masih lagi dipeliharaNya dalam diri kita semua. Betapa beruntung dan gembiranya andai kita bisa membuka kembali mata dan bernafas untuk hari yang baru, dalam keadaan masih lagi beriman kepada Yang Esa. Alhamdulillah atas segala hal.

Tapi, sayang seribu kali sayang sekiranya nikmat itu telah luput dan lucut daripada sanubari kita semua. Iman itu suatu yang amat berharga dalam diri setiap insan. Ianya tidak mampu dijual-beli. Justeru, kalau sekali ia hilang dari kita, sukar untuk mendapatkannya semula. Teringat ana pada lirik lagu dari kumpulan nasyid Raihan…tajuknya “Iman Mutiara” (kalau tidak salah ingatan ana):

“…iman tak dapat diwarisi…dari seorang ayah yang bertaqwa…ia tak dapat dijual-beli…ia tiada di tepian pantai….”

Berbalik kepada kisah yang ana bawakan di atas, subhanallah….sedangkan para sahabat yang telah terjamin kesudahan di syurga Allah pun masih lagi risau akan tahap keimanan masing-masing, inikan pula kita manusia biasa yang masih belum pasti pengakhirannya, sama ada baik atau buruk. Janganlah hanya kerana kita bergelar ummat Muhammad, kita boleh bersenang-lenang dan hanyut dengan keindahan dunia yang ternyata mempesonakan tanpa berusaha kuat untuk bekal di akhirat kelak.

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Tidakkah kamu mengerti?” [QS6:32]

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bahagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerosakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerosakan.” [QS28:77]

Ya benar, Rasulullah bisa sahaja mengurniakan syafaat Baginda kepada kita semua di Mahkamah Agung Allah nanti…tapi adakah itu menjadi pelepas tanggungjawab daripada kita? Tidak sekali-kali! Renungilah kata-kata hikmah dari Al-Maududiy dalam salah satu kitab tulisannya:

“Dunia adalah medan amal dan tiada hisab….tetapi Akhirat adalah medan hisab dan tiada lagi amal.”

Allah juga pernah berfirman dalam Al-quran agar kita mengambil peluang yang ada selama kita masih hidup di dunia ini untuk beramal…mencari bekal buat pembela diri ketika menghadapNya kelak.

Firman Allah:

“..segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, kerana sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa..” [QS2:197]

Tidak sedikit perihal iman itu yang bisa kita ketahui…inshaAllah, di sini ana muatkan beberapa komentar dari para sahabat tentang Iman…

Umar Al-Khattab r.a. pernah berkata kepada teman-temannya: “Ayuhlah! Moga kita dapat meningkatkan keimanan kita semua.”

Selanjutnya, Abdullah Ibnu Mas’ud mengatakan: “Duduklah bersama kami, nescaya kamu bisa meningkatkan imanmu”. Malahan, dalam sujudnya, beliau tidak lupa berdoa supaya Allah menambahkan keimanannya, keyakinannya dan juga kefahaman kepadanya.

Selain itu, kata-kata yang amat familiar dan famous di Monash yang selalu disampaikan oleh kakak-kakak senior ana yang dipetik daripada Mu’adz bin Jabal yang berbunyi: “Duduklah bersama kami dan berimanlah sejenak” atau dalam Arabic-nya “Ijlis Bina wanu’minu sa’ah.”

Sewajarnya juga antum menilai kata-kata daripada Abu Darda yang berbunyi: “Ianya terserah kepada setiap hamba Allah itu untuk menentukan sama ada imannya meningkat atau menurun, dan ianya juga bergantung kepada kebijakan hamba Allah tersebut untuk mengetahui bagaimana, di mana dan bilakah datangnya bisikan-bisikan jahat Syaitan la’natullah.”

Akhirnya, hayatilah pesanan penuh makna dari Abdur Rahman Ibn ‘Amr al-Awzaa’ee yang apabila ditanya tentang Iman, ‘Adakah ianya bertambah?’ Beliau lalu menjawab: “Ya, sehinggalah ia menjadi setinggi gunung.” Terus, beliau ditanya lagi, ‘Adakah ianya berkurang?’ Beliau lantas menjawab: “Ya, sehinggalah tiada apa-apa lagi yang tinggal.”

MashaAllah, betapa pentingnya kita semua mempunyai hati yang sangat sensitif dan peka dengan “Kesihatan Iman” kita selama kita hidup. Fitrahnya, Iman itu SINUSOIDAL. Kadang-kadang ia berada di tahap paling atas….dan bisa sahaja ia jatuh menjunam ke bawah. Hati-hatilah wahai sahabat-sahabat yang ana kasihi fillah (termasuklah diri ana sendiri yang sering kelupaan)…rajin-rajinkanlah menyemak status Iman kita. Tiada salahnya kita menjadi seorang yang terlalu berwaspada kerana ternyata Iman itu terlalu berharga bak emas permata.

“Iman…bagaikan emas permata,
Letaknya di dalam jiwa…
Kemilau warnanya bak cahaya…
Penyuluh hidup seluruh manusia…

Iman letaknya di hati,
Suburkanlah dengan ilmu…
Bajainya dengan zikrullah…
Ia menunjukkan kita jalan diredhai Allah..
Imanlah harta yang paling berharga…

Iman…kurniaan Yang Esa,
Tanpa mengira bangsa dan rupa…
Memberi petunjuk ke jalan mulia…
Menjadi benteng penghalang dosa…”

Alangkah indahnya andai kita mampu mencontohi seperti mereka yang disebutkan Allah dalam kitabNya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal.” [QS8:2]

“(iaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerana itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” [QS3:173]

“Dan ketahuilah bahawa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemahuan) kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” [QS49:7]

Alhamdulillah, walaupun terasa nukilan kali ini lebih comot berbanding yang lain…tetapi dengan rahmat Ilahi, dapat juga ana tamatkan entry kali ini. inshaAllah, semoga ada manfaatnya buat diri kita semua, kalaupun tidak banyak…sedikit pun sudah memadai…terimalah seadanya…kerana hanya ini yang mampu ana berikan buat masa ini..Asifati jiddan atas sebarang kekurangan dan kesilapan tutur kata…Ana al-faqeerah ilallah…

Jazakumullahu khayran katsiran atas segalanya…dokongan, sokongan dan suntikan semangat…dan paling penting..ingatan antum semua pada diri ana di dalam bait-bait doa antum…may Allah reward you good…Ameen…

Wallahu ta’ala a’laam…

Thursday, January 18, 2007

JOM HIJRAH....

Suatu malam…kira-kira dalam sela masa antara solat Maghrib dan Isyak…ana mencuri sedikit masa untuk mengajarkan adik bongsu kesayangan ana, adik Uzair beberapa helaian daripada buku Iqra’ 1 –nya (he used to pronounce it as “AQRA’” when he was small)…alhamdulillah, walaupun masih belum lancar sepenuhnya, tapi ana bersyukur sebab adik Uzair dah mengenal banyak huruf dan “pick-up rate” –nya sungguh memberangsangkan…Alhamdulillah atas kurniaan nikmat tersebut pada dirinya…

Usai belajar, ana bertanya pada dia…

“Dah buat kerja sekolah?”

Dia tersengih seketika…. “Hmm, maksudnya belum mula lagi la tu”….ish ish ish…adik ana ni memang agak manja dengan ana…can’t help with that…

Lantas ana pun terus minta adik Uzair siapkan kerja sekolahnya..katanya ada ‘homework’ dari English teacher…ana hanya tersenyum padanya sambil menunggu dia dengan buku dan penselnya..

PAGE 6:

Colour the correct words.

Begitulah yang tertulis pada halaman yang diminta oleh teacher adik Uzair untuk diselesaikan di rumah…bila ana tengok sepintas lalu, rupa-rupanya task tersebut ingin mengasah kefahaman murid-murid tentang konsep “Singular and Plural forms”…

Lepas tu, adik Uzair cakap pada ana…

“Kak Long, teacher kata kalau untuk seorang, perkataan selepasnya MESTI ada “-s”…tapi kalau untuk dua orang, MESTI tak ada “-s”….mashaAllah, petah betul adik ana ni berbicara…layaknya seperti seorang guru yang sedang mengajar di hadapan kelas….hehehe…

“Hmm, Kak Long rasa macam betul apa yang Jay cakap tu…kalau macam tu, Jay (nama manja di rumah) buat sendiri la ye…dah pandai tu…tak perlu Kak Long ajar kan?” ana cuba bergurau…

Terus, dia pun macam sedikit hampa…alahai, dah merajuk pulak…kang nanti susah nak pujuk…so, ana pun mulalah mengajarkan adik Uzair….(tiba-tiba kena turunkan level sedikit…bahasa yang diguna pun harusnya bahasa yang mudah difahami oleh anak-anak kecil)…huhuhu

“Ok, tengok soalan pertama dulu ye…” ujar ana dengan suara yang lembut…

I ……………. [cycle] [cycles] home.
Yen wi …………… [walk] [walks] to school.

Adik Uzair pun cuba meneka dengan berdasarkan apa yang teacher-nya dah ajar di sekolah pagi tadi…

“I tu sorang, jadinya MESTI ada “-s”…jadinya, kena color “cycles”…”macam tu lah adik Uzair beritahu ana based on what he understood so far…

“Hmm, Kak Long rasa tak betul tu…yang betulnya “cycle” sebab I tu memang sorang, tapi berbeza sedikit daripada yang lain…kiranya I tu kes istimewa..” ana cuba membetulkan konsep adik ana yang sedikit kurang tepat…He almost got it right, but still…there is room for improvement, I reckon….

Adik Uzair macam tak puas hati…in fact, dia memang tak puas hati dengan jawapan ana…adeh, am I wrong? Ana mungkin agak bertegas bila nak betulkan konsepnya yang sedikit sahaja kurang tepat…otherwise, he’s ok…a fast-learner…huhuhu, a sense of regret overwhelms me….(maafkan Kak Long, ana berkata di dalam hati).

Sebagai membuktikan ketidakpuasan hatinya, adik Uzair pun terus tanya pada Mak dan Ayah….again, dia ulang lagi jawapan yang sama…tapi of course, Mak dan Ayah membenarkan jawapan ana…then, dia tanya plak pada Nabilah (adik ana yang keempat)…Nabilah cakap, “memang betul kalau untuk sorang kena letak “-s” kat belakang perkataan yang hadir selepasnya dan kalau untuk ramai, tak boleh letak “-s”…tapi Nabilah tak beritahu jawapan untuk dua soalan di atas….

Aduhai….baru ana tersedar…anak-anak kecil selalunya memikirkan apa yang mereka cakapkan adalah betul…flawless….kalau kita tak ikut atau tak setuju…mereka akan cuba sedaya upaya untuk buat kita akhirnya mengalah…dan selalunya mereka sangat expressive…(this is what I have learned from my youngest brother, Uzair)..

Ingatkan dah settle..rupa-rupanya tak settle lagi…Uzair tiba-tiba menangis..mungkin sebab semua orang tak sokong dia…(terasa bersalah –lah plak pada adik Uzair…I shouldn’t have done that)…

Then, adik Uzair cakap… “Macam ni Abang sorang je yang cakap betul…nak call Abang la…” masih lagi tak mahu mengalah….dia nak call dan tanya sendiri pada adik lelaki sulung ana, Luqman yang sedang mengikuti kursus persediaan untuk India…inshaAllah, finishing in 2008 (if Allah wants)…

Ana sempat mencelah…. “ooo, kalau macam tu, nanti Abang dah ada di India, Jay nak call Abang la ek? Sebab nak tanya homework?”

Adik Uzair tak menjawab….mungkin sebab dia cuba nak mengambil masa memikirkan statement ana tadi…

Once again, have I done something not right? Susahnya nak convince-kan adik ana ni…he’s still small…baru masuk Grade 2…and I just can’t expect too high from him…sorry Jay….Kak Long salah…(nada penyesalan, tapi hanya mampu ucapkan di dalam hati)…

**************************************************************************
Panjang pula cerita kat atas tadi…tapi ana sebenarnya terdetik sesuatu selepas kejadian ni…macam natijah daripada apa yang berlaku antara kami semua…mungkin analogi yang ana cuba hasilkan ni kurang sesuai atau tidak relevan sama sekali…(and I do admit that I’m not really good at making analogies…)..Wallahu musta’an..

Namun begitu, inshaAllah ana cuba untuk kaitkannya dengan sesuatu…forsure berkenaan dengan Awal Muharram yang bakal disambut kurang lebih dalam masa dua hari lagi…inshaAllahu khayr..


Alhamdulillah atas keizinan yang Allah berikan pada ana untuk mengikuti program Minggu Penghayatan Islam (MPI) anjuran persatuan di Universiti Sains Malaysia, Kampus Kubang Kerian (USMKK)..angah yang bersungguh-sungguh mengajak ana untuk turut sama memandangkan ana masih lagi bercuti…justeru, malam Isnin yang lalu, ana berkesempatan untuk mendengar kuliah maghrib oleh Kapten Hafizfirdaus Abdullah…(subhanallah, this is my very first time to meet him in the real world….sebelum ini, ana hanya sekadar melayari laman web alfirdaus.com sahaja…unbelievable…)..anyway….BTD (back to discussion)

Oleh kerana Kapten bakal menjadi one of the panels in the Forum Bicara Ad-Diin right after Isyak prayer….therefore, he just delivered something ‘light’ (from his own viewpoint, I guess) for Kuliah Maghrib…tajuknya menarik….”JOM HIJRAH”…dan Bukannya JOM HEBOH….well, a bit sarcastic…but no worries then….cool, isn’t it?

Agaknya, kenapa ana cuba kaitkan topic ini dengan peristiwa yang berlaku di rumah ana seperti di atas? Any thoughts? Afwan katsiran kalau entry ana kali ni agak “comot”…mungkin sejak pulang, ana kurang menulis dan akhirnya bahasa pun bertukar…tapi inshaAllah, gaya penulisan ana masih lagi sama…Cuma ana mengharapkan apa yang ditulis ini bakal bermanfaat walaupun sedikit buat tatapan sahabat-sahabat ana yang amat dikasihi fillah….mudah-mudahan…i’ll try my very best then….

InshaAllah, suka ana kongsikan serba-sedikit ilmu yang disampaikan oleh Kapten Hafizfirdaus pada waktu tersebut….selalunya, Hari Kebesaran Awal Muharram menjanjikan kita untuk mengingati semula peristiwa bersejarah yang berlaku ke atas Rasulullah SAW dan umat Muslimin suatu masa dahulu….,i.e. penghijrahan dari Kota Mekah ke Kota Madinah…tapi, kali ini Kapten mengajak sidang hadirin untuk melakukan “hijrah pemikiran”…menurut beliau, ini adalah sesuatu yang amat penting dan “hijrah pemikiran” ini mempunyai tiga bentuk….

  • Hijrah dari pemikiran yang tertutup kepada yang lebih terbuka.

    Lanjut beliau, kita tidak sewajarnya cepat menolak seandainya kita dikhabarkan dengan sesuatu yang tidak pernah kita dengari sebelum ini…teringat ana pada pesanan hikmah dari seorang ukhti fillah untuk ana dan teman-teman seperjuangan….. ‘jangan cepat melatah’…inshaAllah, ana secara peribadi bersetuju dengan bentuk hijrah yang pertama ini….umat Islam seharusnya keluar dari “kepompong lama” dan melihat dunia baru yang menjanjikan pelbagai bentuk cabaran dan dugaan….tambah lagi, musuh-musuh Islam sekarang ini lebih senang untuk menewaskan kita dengan serangan pemikiran….jangan biarkan sejarah hitam lama berulang kembali…sebaliknya, biarlah kita mencipta sejarah kegemilangan kembali….(semoga Allah membantu kita untuk menegakkan kembali agamaNya di muka bumi ini). Amin

  • Hijrah dari pemikiran se-meter kepada beberapa kilometer, i.e. far-minded-person.

    Untuk hijrah bentuk kedua ini, Kapten menyeru sidang hadirin untuk berfikir jauh ke hadapan sebelum membuat sesuatu keputusan…kata beliau, kita kena lebih banyak menganalisa sebelum bertindak…sort of saying “Think before we act”…Beliau membawakan contoh isu Boicot Israel yang mendapat tempat di hati masyarakat Muslim di Malaysia suatu ketika dulu, gara-gara kasus Karikatur Nabi Muhammad SAW yang disiarkan di Denmark. Menurutnya, kalaupun kita marah atau membenci ketidakwajaran sikap yang mereka tunjukkan, namun janganlah sampai kita bersikap tidak adil pada mereka…bayangkan apa kesannya ke atas orang lain sekiranya kita memperluaskan isu boicot ini? Kerana hujah beliau, ternyata lebih ramai orang Melayu yang Islam yang menjadi staff di KFC, Mc Donald, etc etc…kalau isu boicot diteruskan, di mana lagi mata pencarian yang tersedia buat mereka ini? …again, he was saying this on the basis of this one verse in the Quran:

    “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan kerana Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Kerana (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan..” [QS5:8]

    Beliau meneruskan lagi dengan mengemukakan satu lagi ayat yang menjadi asas kepada pendapat beliau di atas:

    “Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, kerana mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan…” [QS6:108]

At first, it was a bit convincing to me..sehinggalah ada seorang brother bertanya… “Tapikan Kapten, ianya (i.e. Boikot Israel) telah dikeluarkan oleh Dr Yusuf Al-Qaradhawi…mufti terkemuka di abad ini…bukankah ianya sesuatu yang telah disepakati bersama?...mashaAllah, soalan yang cukup mantap, I would say..

Then, Kapten menjawab… “kita harus melihat tempat dan suasana yang dialami oleh mereka…mungkin tindakan ini dikira bertepatan dengan situasi yang melanda masyarakat Muslim di Europe…” katanya dengan nada yang biasa…

Ana tak fikir untuk meneruskan perbahasan ini…ana tinggalkan ia untuk antum berfikir sejenak…surely, I have my own firm stand pertaining this issue (inshaAllah) and again, this is just his (i.e. Kapten) own point of view…and he has his own arguments regarding this matter….inshaAllah, kita saling menghormati pendirian seseorang itu selagi mana tidak melanggar batas-batas syar’ie…khayr, inshaAllah…

Untuk bentuk yang ketiga, asifati jiddan…I think I have missed out that point…ni akibat daripada kami (ana, angah dan sahabat baik ana, Ukhti Kuin) yang membuka topic perbincangan sesama sendiri selepas Kapten membuka isu Boikot…kami bukannya tak mahu memberikan perhatian, Cuma ingin memperjelaskan kekeliruan yang mungkin timbul di hati kami…apapun, manusia itu bukannya maksum sepertimana Rasulullah….setiap kata-kata yang keluar daripada manusia bisa sahaja diterima atau ditolak…ambil yang baik dan buang yang buruk…inshaAllah, selamat….

To make it short, ana terfikir yang kejadian di rumah tadi boleh dikaitkan dengan bentuk hijrah pemikiran yang pertama…kan susah untuk adik bongsu kesayangan ana menerima kenyataan yang jawapannya salah dan jawapan ana betul…sebabnya, dia dah ada satu mind-set sebelum dia mendengarkan penerangan daripada ana…whatever it is, ana tidak menyalahkan dia ..mungkin ana yang cuba menjelaskan sesuatu yang ‘baru’ pada adik Uzair tidak begitu berhikmah sehinggakan dia betul-betul tidak dapat menerimanya dengan hati yang lapang…wallahu a’laam (something to ponder over)…inshaAllah, semoga ianya memberi ‘ibroh yang penuh makna buat semua…. – the end –
















Thursday, January 04, 2007

Sisi-sisi kecil kehidupan…




Kasus (Case): Dalam perjalanan ana ke pekan Brunswick menaiki bas, tiba-tiba terlihat seorang lelaki (an English man) yang kedua-dua matanya buta dengan dibantu oleh sebatang tongkat membawa anak lelakinya yang ana kira berusia 4 tahun. Alhamdulillah, anaknya normal…matanya sempurna dan dia boleh lagi tersipu-sipu malu apabila ana memerhatikan gelagatnya (sebab ana memang suka sangat dengan anak-anak kecil)…masa nak naik bas tu, anak lelakinya masuk dulu…kemudian barulah bapanya dengan perlahan-lahan menghampiri pemandu bas untuk membelikan tiket buat mereka berdua. MashaAllah, bersusah-payah si bapa meraba-raba wang syilingnya di dalam dompet…tapi sedihnya si pemandu bas dengan nada yang agak meninggi seolah-olah memarahi lelaki tadi kerana terlampau lama untuk membayar tiket. Ya Allah, saat itu, ana terasa sedikit kesal dengan ketidakwajaran sikap si pemandu (yang umurnya telah agak lanjut, tapi masih diizinkan untuk memandu bas)…kenapalah begitu susah untuk pemandu bas tersebut bersabar sedikit sahaja lagi?…(nada retoris)

Usai membayarkan tiket, si bapa dengan penuh berhati-hati mencari-cari tempat duduk di dalam bas tersebut. Ditakdirkan Allah, waktu itu ana dan seorang kakak senior duduk berhampiran dengan disable seating yang memang senantiasa tersedia untuk mereka yang kurang upaya…terus, si bapa tadi yang setia dengan tongkatnya menghampiri tempat duduk tersebut…tapi almost dia nak terduduk di seat ana (mungkin disangkakannya itulah tempat yang disediakan untuknya)…ana terkejut seketika dan seakan mengelak kerana ana khuatir dia terduduk di atas ana….huhuhu…tapi syukurlah ada seorang penumpang lagi yang membantu si bapa tadi..Allahu a’laam, ana tak tahu kenapa ana kelu tak terkata sewaktu kejadian itu…bukan tak mahu menolong..Cuma waktu itu memang ana termenung sejenak…merenung jauh nasib mereka dua beranak…

Saat dan ketika itu, ana terfikirkan nasib si anak kecil yang bakal meningkat dewasa di bawah jagaan seorang bapa yang hilang satu nikmat dunia, i.e. nikmat penglihatan…si bapa pula bakal menghampiri usia tua dan mungkin satu tahap akan bergantung pada si anak kecilnya itu untuk menguruskan dirinya…bermacam-macam persoalan timbul di benak ana pada waktu itu sampaikan ana hampir terlajak untuk ke destinasi kami…subhanallah…jauh ana mengelamun…tapi ana harap ianya bukan anganan kosong buat mengisi masa perjalanan….ampunan Allah ana pohonkan sekiranya ia sesuatu yang sia-sia..semoga dijauhkan oleh Allah…Ameen

Ana tak tahu kenapa kasus ini bermain-main di fikiran ana…seakan ianya memberi satu tazkirah cukup bermakna buat bekalan hidup ana…mungkin ada ‘ibroh (pengajaran) yang berguna untuk ana hayati…Wallahu a’laam…cumanya, ana mengagumi sikap si bapa yang tidak pernah kenal erti putus asa dan hilang harapan walaupun dia menyedari yang hidupnya tanpa sepasang mata bakal menyusahkan orang lain….termasuklah anaknya yang masih lagi tidak mengerti akan perihal dunia ini…ternyata, kalau diikutkan usia anak kecil itu…perjalanannya masih jauh dan panjang…banyak perkara yang harus ditempuhinya…everything can happen..but it’s totally unpredictable…pengetahuan itu tetap hak Allah yang abadi…kecualilah Allah mengizinkan hambaNya to look beyond that…kita hanya mampu mengharapkan yang terbaik dari Allah selama kita masih bernafas di atas bumiNya yang semakin tua ini…

Kasus pendek ini mengingatkan ana tentang satu kisah yang ana pernah baca…barangkali ianya hanya dapat difahami oleh diri ana sendiri..yang cuba untuk menghubungkaitkan kasus di atas dengan kisah ini…tapi buat sahabat-sahabat yang ana kasihi fillah sekelian, semoga antum bisa mendapatkan mesejnya walaupun sedikit, kerana memang tidak banyak orang yang tertarik untuk menyingkap sisi-sisi kecil dari kehidupan..tidak banyak yang mahu menyelami bahagian-bahagian yang tersembunyi dari perjalanan hidup kita. Selalunya kita lebih banyak melewati hal-hal yang sederhana dengan melupakan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya…dan seringkali juga kita terlalu disibukkan dengan hal-hal yang besar lantas hal-hal yang kecil jadi terabai….(again, nada retoris)

Kisah ini bertajuk “Daun”…mashaAllah, menarik sungguh ceritera pendek ini….ringkas, padat, mantap…moga bermanfaat…

“Seorang pemuda duduk sendiri di sebuah taman. Di pangkuannya terhampar sebuah buku yang masih terbuka. Di sebelah kanannya, sisa makanan berhimpit dengan botol minuman. Hari itu adalah awal musim gugur di tahun ini. Tak hairanlah banyak sekali daun berjatuhan. Terserak. Begitu juga di bangku tempat pemuda itu duduk.

Sang pemuda masih menikmati petang itu dengan membaca. Tangannya membelek-belek halaman buku. Setiap kali selesai membaca beberapa paragraph, matanya tak lepas dari urutan kata dalam buku. Menelusuri setiap kalimat yang tersusun di sana. Tiada rasa terganggu dengan daun-daun yang sesekali jatuh menimpanya. Sementara di kejauhan, ada beberapa anak kecil berlari. Mereka bermain, menikmati matahari petang yang indah itu.

Srekkk…srekkk..terdengar langkah. Pemuda itu menoleh. Srekk..srekk…srekk. terdengar lagi langkah kaki bergesekan dengan daun-daun. Seorang ibu tua sedang memunguti daun-daun. Tangan kirinya menggenggam kantung kain. Isinya daun-daun kering.

Pemuda itu terpegun kehairanan.
“Apa yang ibu sedang lakukan?”
“Aku sedang mengumpulkan daun,” ujar si ibu tua.

Mata tuanya terus menjelajah, mengamati hamparan daun di taman itu.

“Aku sedang mencari daun-daun terbaik untuk kujalin menjadi mainan buat anak-anak di sana.”

Satu dua daun dimasukkan ke kantung kain. Pemuda itu beringsut. Buku di depannya diletakkan. Ia kembali bertanya, “Sejak bila ibu melakukannya?”

“Setiap musim gugur aku lakukan ini untuk anak-anak. Akan kubuatkan selempang dan mahkota daun buat mereka. Jika aku dapat banyak daun, akan kubuatkan pula selubung-selubung ikat pinggang. Ah, mereka pasti senang.” Mata tua itu berbinar. Selendang di lehernya berjuntai di bahu. Tangannya kembali memasukkan beberapa daun.

Tapi, Bu, sampai bila ibu akan berterusan begini? Anak-anak itu pasti akan membuat semuanya rosak setiap kali mereka selesai bermain. Lagipun, terlalu banyak daun yang ada di sini. Ini musim gugur, daun itu akan terus jatuh laksana hujan,” tanya si pemuda itu lagi. “Apakah ibu tidak pernah berfikir untuk berhenti?”

“Berhenti? Berfikir untuk berhenti? Memang, anak-anak itu akan selalu merosakkan setiap rangkaian daun yang kubuat. Mereka juga akan selalu membuat mahkota daunku kayak. Selempang daunku juga akan putus setiap kali mereka selesai bermain. Tapi, itu semua tidak akan membuatku berhenti.” Ibu tua itu menarik nafas. Selendang di lehernya makin dipererat.

“Masih ada ribuan daun yang harus kupungut di sini. Masih ada beberapa kelok jalan lagi yang harus kutempuh. Waktuku mungkin tak cukup untuk mengambil semua daun di sini. Tapi, aku takkan berhenti.”

“Akankah aku berhenti dari kebahagiaan yang telah kutemukan? Akankah aku berhenti memandang kegembiraan dan binar-binar mata anak-anak itu? Akankah aku menyerah dari kedamaian yang telah aku rasakan setiap musim gugur itu?” tanyanya retoris.

“Tidak, Nak! Aku tidak akan berhenti berusaha untuk kebahagiaan itu. Aku tidak akan berhenti hanya kerana koyaknya mahkota daun atau ribuan daun lain yang harus kupungut.”

Tangan tua itu kembali meraih sepotong daun. Lalu dengan suara perlahan, ia berbisik, “Ingat Nak, jangan berhenti. Jangan pernah berhenti untuk berusaha.” Larik-larik senja telah muncul, menerobos sela-sela pohon, membentuk sinar-sinar panjang, dan berpendar pada tubuh ibu tua itu.

Teman, adakah kita pernah merasa ingin berhenti dari hidup ini? Adakah kita pernah merasa gagal? Adakah kita berfikir untuk tidak melanjutkan impian-impian kita? Ana percaya, ada banyak daripada kita yang pernah mengalaminya. Ada banyak daripada kita yang mungkin berfikir untuk menyerah kerana begitu banyaknya tentangan yang kita hadapi.

Namun, apakah kita harus berhenti berusaha ketika melihat “mahkota-mahkota daun” impian kita koyak? Haruskah kita berhenti saat “selempang daun” harapan yang kita sandang putus? Akankah kita menyerah saat “rangkaian daun” kebahagiaan kita tak berbentuk? Ana percaya, ada banyak pilihan untuk itu. Beragam pilihan akan muncul di kepala kita saat kenyataan pahit ada di depan kita.

Lalu, akankah kita surut melangkah, saat kita melihat ada ribuan “daun tentangan” yang harus kita pungut? Akankah kaki kita menyerah ketika kita bertemu dengan hamparan “daun ujian” di depan kita? Barangkali kita harus ingat perkataan ibu tua tadi. “Jangan pernah berhenti untuk berusaha. Jangan pernah menyerah untuk kebahagiaan yang akan kita raih.”

Sahabat, ibu tua itu benar. Kita mungkin takkan bisa meraih semua daun-daun kebahagiaan itu. Mahkota, selempang dan selubung ikat pinggang daun itu akan kayak. Tapi, janganlah itu membuat kita berhenti melangkah. Masih ada berjuta daun-daun harapan lain yang masih dapat kita pungut. Di depan sana, masih terhampar berjuta daun impian lain yang memberikan kita beragam pilihan. Mungkin jalan di depan kita masih berkelok, masih panjang, namun daun-daun itu ada di sana. Berjuta daun kebahagiaan lain masih menunggu untuk kita rajut, jalin, anyam, dan susun. Jangan menyerah. Jangan pernah menyerah, kerana Allah selalu bersama hambaNya yang sabar…”


Wallahu ta’ala a’laam…

Tuesday, December 12, 2006

Perutusan Khas Buat ‘Cinta’

Bismillahirrahmaanirraheem…

Ke hadapan Cinta yang disayangi selalu kerana Allah…semoga warkah pertama dan terakhir yang tidak diundang ini tidak mengganggu ketenangan hati dan jiwa Cinta…yusrina tidak bermaksud apa-apa…cuma sekadar menyampaikan hasrat dan kata-kata ikhlas dari nurani yang tak mampu dilafazkan dengan tutur bicara….kerana bagi yusrina, kata-kata itu mungkin bakal bersifat tajam seperti tajamnya mata pedang…dan yusrina tidak mahu Cinta terjejas olehnya…Wallahu a’laam…inshaAllahu khayr..

Pertemuan kita ternyata sudah tertulis dan tak bisa ditukar-ganti oleh sesuatu pun…subhanallah, perjumpaan yang tidak disangka-sangka akhirnya menguntumkan ukhuwwah yang tidak mengenal batas usia, tempat, keturunan, asal-usul dan seumpamanya…Alhamdulillah, terus-terang yusrina katakan betapa bersyukurnya setelah Allah mentakdirkan kita saling mengenal…walaupun ianya berputik lewat April yang lalu….mungkin Cinta tak bisa mengimbau kembali detik manis itu…tapi inshaAllah, ianya masih terpahat kukuh di sanubari yusrina…indahnya Ukhuwwah Islamiyyah itu…

Orang selalu menyangka….perkenalan dalam tempoh yang singkat takkan mampu memantapkan taa’ruf seseorang itu…tapi untuk kasus kita berdua, mashaAllah, masa yang sedikit itu ternyata Allah berikan peluang untuk kita lebih rapat…bergandingan ke-sana ke-mari…terutamanya sewaktu bersama-sama mengejar bus dan train untuk ke city demi meneroka ilmu Allah….yusrina hampir tergelak kecil tatkala mengingatkan saat dan ketika itu…banyak pengalaman manis, pahit dan melucukan yang kita tempuh….ditambah dengan teman-teman yang lain…rindunya saat itu…andai masa bisa diputar kembali…huhuuhu..

“Kusangka panas hingga ke petang, rupanya hujan di tengah hari…”

Barangkali peribahasa melayu ini amat bertepatan dengan episod persahabatan kita….subhanallah, it’s totally out of my blue…ternyata, ianya tak menjanjikan sesuatu yang manis buat selama-lamanya…Tiba masanya jalinan persahabatan kita diuji olehNya…saat itulah yusrina terasa benar-benar terduga keikhlasan dan kejujuran…keyakinan pada hebatnya kasih sayang yang dibina atas nama Ilahi…Ya Allah, beratnya ujian untuk kami..

Terkilan yusrina lantaran ketidakmampuan diri untuk sentiasa berada di samping Cinta…terutama saat Cinta benar-benar perlukan seseorang untuk menyuntikkan semangat dalam diri…astaghfirullahal’azim…yusrina memohon rimbunan keampunan atas kelemahan dan kekurangan diri…bukanlah yusrina mahu menjauh atau melarikan diri dari masalah, tapi ketika itu yusrina seolah-olah hilang arah selepas mengalami “trauma” yang tak pernah yusrina jangka akan terjadi…la hawla wa la quwwata illa biLLAH…maafkan yusrina, Cinta…mungkin ini kegagalan pertama yusrina dalam bersahabat dengan Cinta…tapi harapan yusrina..biarlah ianya yang pertama dan terakhir…dan inshaAllah…yusrina yakin ianya satu teguran penuh makna dariNya untuk pedoman yusrina….dan buat Cinta juga…wallahu ta’ala a’laam…Dia lebih layak untuk menilainya…yusrina terima dengan hati yang redha dan pasrah…moga masih ada lagi ruang untuk yusrina di hati Cinta…semuanya bagaikan angin badai yang kencang….datang menerjah tanpa khabar…tanpa tanda…menggoncangkan hati yang sebenarnya masih lemah…aasifati jiddan ya ukhti habibati….

Tapi Cinta…subhanallah, di saat yusrina kebuntuan…terasa sempit dan buntu akal untuk memujuk hati sendiri dan juga Cinta…Allah mentakdirkan yusrina membelek al-quran kecil yusrina, teman akrab yusrina yang diharapkan akan mampu menjadi pembela diri ketika menghadap Yang Agung…inshaAllah..

…Dia berfirman:

“Sungguh Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sekecil zarrah, nescaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisiNya..” [QS4:40]

Nah, Cinta…kalau beriman dengan ayat ini…sewajarnya Cinta tidak putus asa..malah terus berharapkan rahmat dariNya…ujian yang bertimpa-timpa pada diri Cinta sememangnya telah ditetapkan sejak awal lagi…musibah…dugaan…tribulasi..itu semua lumrah kehidupan…Cinta…Life is not BUT a test….ianya bisa datang saat kita masih lagi wujud di dunia ini dan juga di hari akhir…

Bukan sedikit Allah mengingatkan kita tentang musibah dalam Kalam SuciNya…

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar..” [QS2:155]

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun..” [QS67:2]

Sekali lagi Cinta…yusrina dengan penuh rasa rendah diri meminta maaf atas kesilapan dan keterlanjuran perilaku yusrina selama kita diizinkan bersama...tidak dinafikan…background kita berbeda….perjuangan ilmu kita juga tidak sama…tapi kita tetap serupa..kerana kita ditemukan untuk berada di atas satu jalan pendakian panjang lagi berliku-liku…yang pastinya menagih seribu satu pengorbanan….dan harus diingat Cinta… “perjuangan itu ertinya berkorban..dan berkorban itu ertinya terkorban”…penat kita berjalan beriringan..tapi masih belum terlihat penghujungnya..namun, kita tetap berdoa semoga Allah memberi kekuatan untuk kita meneruskan perjalanan itu…Ameen…

Barangkali ini titik perpisahan kita…Cinta bakal pulang ke medan sebenar..dan yusrina inshaAllah, masih lagi bertarung di bumi asing….jihad ilmu masih lagi jauh…kalaupun yusrina tiada di sisi Cinta…yusrina pohon dengan sangat agar Cinta tetap tabah dan kuat…jangan lemah dek ujian hidup…sebab setiap saat yang berlalu itu hádala pertarungan yang tidak dapat dielakkan…jangan pernah putus asa wahai Cinta…itu bukan sifat seorang mukmin…ingat lagi kan hadis yang yusrina ulang beberapa kali pada Cinta?

“….pelik urusan seorang mukmin itu…apabila dia mendapat nikmat, dia bersyukur dan itu adalah yang terbaik baginya…dan apabila dia mendapat kesusahan, dia juga bersyukur dan itu juga adalah yang terbaik baginya…”[afwan, yusrina lupa lagi periwayatnya, tapi yusrina yakin ianya hadis shahih…ingatlah hadis ini di saat Cinta diuji pada titik kelemahan…inshaAllah, moga ianya menjadi penawar buat hati yang gusar..]

Di sini juga yusrina titipkan satu lagi hadis yang amat bertepatan dengan kasus kita berdua..dan mungkin untuk saudara-saudara seaqidah yang lain…khayr, inshaAllah

Dari Abi al-Abbas Abdillah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma katanya: “Pada suatu hari adalah aku di belakang Nabi SAW, lalu baginda bersabda: Hai anak!aku akan mengajar engkau beberapa perkataan. Peliharalah Allah, nescaya engkau dapatiNya di hadapan engkau. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau memohon pertolongan, maka pohonlah pertolongan itu dengan Allah. Dan ketahuilah! Sesungguhnya umat itu kalau mereka berkumpul untuk memberi manfaat kepada engkau dengan sesuatu, tidaklah mereka dapat memberikannya kepada engkau kecuali dengan sesuatu yang sudah dituliskannya oleh Allah atas engkau. Dan jika mereka berkumpul untuk membahayakan dengan sesuatu, tidaklah mereka dapat membahayakan engkau kecuali dengan sesuatu yang sudah dituliskanNya oleh Allah atas engkau. Diangkatkan segala pena dan telah keringlah pula segala buku…” [Diriwayatkan oleh Tirmizi, dan katanya hadis ini hasan shahih]

Yusrina tak berniat nak ulaskan hadis ini..tapi subhanallah, kalau Cinta baca syarahnya…sangat menarik dan menenangkan jiwa…semoga Cinta dapat memanfaatkannya sebagaimana orang lain yang telah berjaya memanfaatkannya….Ameen..

Last but not least…this lovely poem is for you…it has been forwarded to my email before…have a read…

Don't Say You're Not Important

It simply isn't true,
The fact that you were born,
Is proof, Allah has a plan for you.
The path may seem unclear right now,
But one day you will see,
That all that came before,
Was truly meant to be.
Allah wrote the book that is your life,
That's all you need to know.
Each day that you are living,
Was written long ago.
Allah only writes best sellers,
So be proud of who you are,
Your character is important,
In this book you are the Star.
Enjoy the novel as it reads,
It will stand throughout the ages,
Savor each chapter as you go,
Taking time to turn the pages..
Courtesy: Brother Ghulam Ali


Wallahu ta'ala a'laam....jazakumullahu khayran katsiran 'ala kulli hal...Allah yubarak fiikum...Ameen


Min,
Ukhtil mukhlisah,
Ukhti Yusrina

Sunday, December 03, 2006

Indahnya ayat-ayat suci Kalam Allah...

Bismillahirrahmaanirraheem…ana mulakan nukilan nurani dengan Asma’ Allah…memohon supaya apa yang ana tulis ini nanti akan memberi sedikit manfaat buat diri ana (terutamanya), dan inshaAllah semoga dapat juga dimanfaatkan oleh sahabat-sahabat di luar sana yang sangat ana kasihi fillah…khayr, inshaAllah..

Suatu malam ketika ana berada di bulan penuh barakah, bulan Ramadhan yang lepas…alhamdulillah, Allah mengilhamkan ana dan beberapa orang sahabat seperjuangan untuk menunaikan solat Tarawih di Beddoe Mosque yang terletak berdekatan dengan Monash University…syukuriLLAH, walaupun Beddoe Mosque tak sehebat masjid-masjid lain di bumi Malaysia, hanya sebuah unit kecil berupa rumah…yang agak terasing dari bangunan-bangunan besar lagi gah…namun ana fikir ia berjaya memainkan peranannya dengan baik…setanding dengan masjid-masjid lain…Allahu a’laam…

Sebenarnya ana tak terfikir untuk solat di Beddoe pada malam itu memandangkan malam tu bukan malam minggu..kerana selalunya malam minggu, i.e. hari Jumaat, kami akan beramai-ramai berjalan ke Beddoe usai Majlis Ifthaar anjuran Monash University Islamic Society (MUIS)…tapi pasti ada hikmahnya Allah menetapkan perencanaan sedemikian rupa…kami berempat menaiki kereta ke sana, sebelum masuk waktu Isyak…

MashaAllah…imam pada malam tu mengalunkan bacaan-bacaan ayat al-quran yang dipetik dari tiga surah yang berturutan antara satu sama lain…Sewaktu solat dua rakaat Tarawih yang pertama…imam membaca surah An-Najm…alhamdulillah, ana dapat membuat tekaan yang tepat memandangkan ayatnya amat jelas..dimulai dengan perkataan “Wannajmi”.. I would say that it’s an educated guess…alhamdulillah…diteruskan pula untuk rakaat ketiga, keempat dan seterusnya…usai membacakan surah An-Najm, imam mula dengan surah baru…astaghfirullahal’azim..kali ni memang ana tak dapat nak teka, malah ana tiada clue…I was clueless at that moment…mungkin itu kelemahan diri ana sendiri…yang masih lagi sukar untuk menghafal nama-nama surah di dalam Al-quran..sedangkan ana diberi keupayaan untuk menghafal beberapa bahagian anggota badan manusia dalam bahasa Latin sewaktu mula belajar subjek Anatomy semester yang lalu….ya Allah, ampunkan hambaMu ini…atas kelemahan dan kekurangan diri…tapi tak mengapa, there is always room for improvement…

Setelah tamat surah yang ana memang lupa terus namanya tu…ana alhamdulillah, dapat mengingat nama surah selepasnya..i.e. Ar-Rahmaan…again, it’s an educated guess, probably because it’s so obvious from the very first aayah (verse) and also, this is one of my favorite surah (chapter)…among all the surahs (chapters) in the Quran…subhanallah, surah Ar-Rahmaan lah yang paling pertama ana akan buka setiap kali ana dilanda kesedihan, kesusahan, masalah dunia yang tidak pernah selesai, atau di saat ujian datang menjenguk khabar iman ana…alhamdulillah, ternyata ianya adalah As-syifaa’ (penawar) dan juga ubat hati yang paling mujarab buat diri ana…mungkin buat diri sahabat-sahabat yang lain juga..Allahu ta’ala a’laam…you know yourself better than others do.

Sambung lagi…kami hanya tunaikan solat Tarawih sebanyak 8 rakaat dan tunggu seketika untuk sesi tazkirah..mashaAllah, again..tazkirah tersebut amat sesuai dengan diri ana..yang inshaAllah, telah memilih satu jalan yang suatu masa dulu pernah disusuri oleh Rasulullah, para sahabat…dan ana berharap ana akan ‘jalan terus tanpa menyimpang lagi’…dan ana pohon semoga Allah menetapkan hati-hati kita di atas jalan ini..ana fikir, pentazkirah tu masih lagi muda..mungkin dalam lingkungan umur kami…dari gaya percakapan beliau…Allahu a’laam..mungkin sangkaan ana salah atau meleset..tapi itu bukanlah menjadi satu isu yang besar…beliau membicarakan perihal keluar berdakwah dan kepentingannya terhadap masyarakat masa kini…cuma, beliau banyak kali mengulang perkataan “Khuruj” (i.e. keluar)…secara tidak ana sedari, terlintas sesuatu di fikiran ana..sebab perkataan “Khuruj” ni sangat familiar, but anyway…I’ll leave it open..no comment…inshaAllahu khayr…

On the way back…kami berempat berbincang tentang surah-surah yang dibacakan oleh imam semasa solat Tarawih…senior ana, Kak Aina bagitau ana yang surah selepas An-Najm adalah surah Al-Qamar…mashaAllah, kenapalah ana tak terlintas langsung surah tersebut..walhal dalam ayat pertama sudah disebut kata “Al-Qamar”…innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun….justeru, ana muatkan video clip tentang surah Al-Qamar oleh Syeikh Mishary Al-Afasy…buat tatapan sahabat-sahabat sekelian…

Kenapa surah Al-Qamar? Kenapa bukan Surah Ar-Rahmaan yang menjadi surah kesukaan ana…hm, ana pun tak tahu kenapa..tapi subhanallah, tersentuh hati ana setelah mendengarkan bacaan Syeikh Mishary ni ditambah dengan video clip ni…antum lihatlah sendiri..semoga mendapat kebaikan darinya..

Tapi apa yang menarik dari surah Al-Qamar…kalau antum perasan, Allah ulang beberapa kali dua ayat penting ni..mungkin antum boleh rujuk al-quran masing-masing..

Maksud kedua-dua ayat tersebut adalah seperti berikut:

“Maka betapakah dahsyatnya azabKu dan ancaman-ancamanKu.”

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Dalam surah yang tidak begitu panjang ni Allah sebutkan beberapa kisah kehancuran musuh-musuh agamaNya…yang menjadi sebab agar kita dapat mengambil pengajaran penting daripadanya…inilah salah satu keindahan Kalam Allah...satu kitab suci yang memuatkan kisah-kisah yang mengandungi banyak pengajaran dan pengiktibaran…adanya unsur At-targheeb (khabar gembira) dan At-tarheeb (ancaman) [1] di dalamnya..
  • At-targheeb: arouse interest, awake desire, to mention matters that cause one to desire to do good, seek the reward of such actions and strive to attain Paradise, etc.
  • At-tarheeb: frightening, to mention matters that cause one to abandon the perpetration of bad deeds and fear their consequences and the Fire, etc.

Bijaknya cara Allah mendidik hamba-hambaNya…walaupun diberitakan ancaman yang maha dahsyat, tapi Dia tahu akan sifat makhluk ciptaanNya yang perlukan sesuatu perkhabaran baik untuk memulihkan semangat…di sini nampak keseimbangan, kesempurnaan…mashaAllah, kalau tidak, nanti pincanglah konsep Ar-Rajaa’ (harap) dan Al-Khauf (takut) pada diri seseorang hamba…Allahu a’laam…Dia yang Lebih Mengetahui perihal makhluk-makhlukNya…Ana bagi satu contoh di sini…yang membuktikan adanya unsur At-targheeb wa At-tarheeb di dalam Al-quran…hope this helps..inshaAllah:

“Khabarkanlah kepada hamba-hambaKu bahawa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sesungguhnya azabKu adalah azab yang sangat pedih.” [QS15:49-50]

MashaAllah, sesungguhnya peranan al-quran itu cukup besar dalam kehidupan seseorang muslim…al-quran itulah perlembagaan hidup kita, panduan dan pedoman, petunjuk jalan, penawar kepada segala jenis penyakit, terutamanya penyakit hati…(too many to be listed).

“Dan Kami turunkan dari al-quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (al-quran) itu hanya akan menambah kerugian.” [QS17:82]

Suka untuk ana quote dari satu kitab [1] yang ada di sisi ana sekarang:

The quotation goes like this:

“..The fact that Allah made it (Al-quran) blessed and guidance for the worlds. He placed within it a cure for illnesses, especially the illnesses and diseases of misconceptions and desires of the heart. He made it a source of glad tidings and mercy for the worlds and as a form of remembrance for those who remember. He made it a guide towards that which is most just and upright, and He mentioned aayat and threats by which they may fear or would cause them to remember and reflect…”

Justeru, ana menyeru kepada diri ana sendiri dan sahabat-sahabat sekelian untuk lebih banyakkan berinteraksi dengan al-quran…marilah kita belajar mengakrabi al-quran..kerana inshaAllah, ianya akan bernilai ibadah di sisi Allah..bahkan ia bakal menjadi pembela kita di akhirat kelak…

Akhir kalam…hayatilah pesanan dari Ibnu Al-Qayyim di bawah:

“If you want to attain benefit from the quran, bring your heart together upon reciting or listening to it, and divert your hearing to it, and be present in front of it, in the manner of one who is present and spoken to by the One who spoke it, How perfect He is..” [1]

Wallahu ta’ala a’laam…afwan katsiran andai nukilan ana kali ni sedikit ‘comot’..mungkin sebab dah lama tinggalkan penulisan…inshaAllah, semoga Allah memberkati antum semua…Ameen…

Rujukan:[1] “Causes Behind the Increase and Decrease of Eemaan”, by Shaykh ‘Abdur-Razzaaq al-‘Abbaad.

Thursday, November 16, 2006

The Pencil Parable...something to ponder over...




























After reading through this nice piece of advice, I reckon that I can now understand what a friend of mine used to tell me before:

"The more one is the instrument of God, the more readily God works through that instrument. If a pen rebelled against the direction of the hand, less writing would be possible."

HAPPINESS keeps you SWEET,
TRIALS make you STRONG,
SORROWS keep you HUMAN,
FAILURE keeps you HUMBLE,
SUCCESS keeps you GLOWING...and
ALLAH keeps you GOING!


Wallahu ta'ala a'laam....

Wednesday, November 15, 2006

Dust is my bed....




Sincerely supplicating to the Lord,
You're my hope
Hoping - O Allah - for
a Paradise
in which my bliss shall be attained...

DEATH: To our surprise, this five-letter-word is mentioned more than 200 times in the Noble Qur'an...Indeed, death is INEVITABLE...So, be prepared my beloved brothers and sisters in Faith...

"Everyone shall taste death. And only on the Day of Resurrection shall you be paid your wages in full. And whoever is removed away from the fire and admitted to Paradise, he indeed is successful. The life of this world is only the enjoyment of deception (a deceiving thing)." [QS3:185]

May Allah grant His Mercy towards my dear deceased brother, Khalid Abdul Aziz...Ameen

Today will always be such a memorable day for the rest of my life...Allah knows best....Wallahu ta'ala a'laam....

Seeking His forgiveness....



Tuesday, November 14, 2006

Belajarlah pada pohon....


Sejak beberapa hari yang lalu, diri ini terpanggil untuk membaca kisah-kisah teladan buat menjadi bekalan bagi meneruskan perjuangan hidup sebagai musafir perantau di dunia menuju kehidupan abadi di akhirat…

MashaAllah, ternyata di waktu diri seolah lemas dek pancaroba dunia, rupa-rupanya Sang Kekasih tidak lupa untuk mengilhamkan diri ini membuka semula kotak-kotak email yang lama….tangan ini digerakkan untuk membaca kiriman dari seorang ukhti fillah dari negara jiran…Subhanallah, tepat…memang terkena tamparan maha hebat di rona wajah tatkala membaca kisah ini dari satu perenggan ke perenggan yang lain..justeru, diharapkan sahabat-sahabat sekelian mampu meluangkan sedikit masa untuk meneliti kisah ini dan cuba mengeluarkan ‘ibroh (pengajaran) daripadanya….Wallahu ta’ala a’laam…Allah yubarak fiikum…

***************************************************************************

Suatu hari saya mendapat cerita dari seorang sahabat dekat. Dia tinggal di kota lain di sebuah negeri empat musim. Jangan pernah tanya siapa, kerana dia tidak mahu namanya disebut-sebut. Cerita ini berkisarkan pergelutan batinnya dalam mengenal Tuhan. Mungkin ada pelajaran yang bisa kita ambil daripada kisah ini. InshaAllahu khayr…Dia mempunyai seorang guru spiritual yang juga masih muda, namun memiliki ilmu dan hikmah yang sangat dalam. Dia bertemu dengan gurunya, lebih kurang sekali dalam sebulan. Setiap pertemuan berikutnya, sang guru selalu bertanya :

“Bagaimana perkembangan dan pengalaman selama sebulan ini? Ada bahan apa yang bisa diambil hikmahnya sekarang?”



Keadaan ini berterusan. Terakhir sebelum berpisah lama dengan gurunya, dia juga sempat bertemu dan sang guru memberi tugas baru. Tugasnya adalah agar dia belajar menjadi manusia. Manusia dalam erti kata yang sebenarnya, iaitu manusia sebagai wakil Tuhan, sebagai khalifah di muka bumi. Dan untuk menjadi khalifah dia harus mengenal yang diwakilinya, mengenal Tuhannya.

"Kenali sifat-sifat Tuhan. Jagalah hatimu, ucapanmu, dan akhlakmu sehingga mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Tuhan Maha Suci, Maha Pengasih, Maha Penyayang... Tidak usah pening-pening memikirkan caranya, cukup jalani saja hidupmu dengan seadanya. Tidak usah banyak meminta. Nanti kau akan menemukan sendiri."


Alkisah, sahabat saya ini harus pergi ke negara lain atas urusan pekerjaan. Sebelumnya dia memulai pelaburan, bisnes. Teman-temannya sudah ada yang berjaya, dan dia lihat sendiri buktinya. Dengan berbekalkan sedikit wang beberapa belas juta, dia memulakan pelaburannya. Kemudian dia berniat untuk menambah pelaburannya. Dalam hatinya, jika pelaburan ini sukses, dia bisa melepaskan diri dari masalah kewangan, sehingga bisa beramal dan membantu orang lain dengan lebih banyak.Dia memohon petunjuk dulu kepada Allah. Apakah diperbolehkan pelaburan ini. Jika boleh, mohon dimudahkan. Jika tidak, mohon dijauhkan. Ternyata proposalnya ke bank disetujui, dengan jaminan kenderaan hasil usahanya selama ini. Pelaburan pun bertambah. Lalu dia berangkat.


Namun tidak lama setelah dia bekerja di kota baru, datang khabar buruk kalau bisnes yang diikutinya hancur. Dia kaget, dan mulai khuatir. Dia ingat hal-hal yang diajarkan oleh gurunya. Lalu dia berzikir dan berdoa. Maklum hanya itu yang bisa dia lakukan dari jauh. Tidak mungkin dia pulang dan menyelesaikannya.


Dia mengadukan semua pada Tuhan, dan berharap semoga keadaan menjadi lebih baik. Rajin sungguh dia berdoa, sehingga dia rasakan kenikmatan dalam hatinya yang jarang dirasakan sebelumnya. Hati yang terasa sejuk, seperti disiram ais ketika berzikir. Kekhuatirannya hilang, berubah menjadi syukur. Syukur kerana diberi cubaan dan diberi kenikmatan iman dalam zikirnya.


Beberapa hari kemudian berita baru datang. Keadaan tidak menjadi lebih baik, tetapi lebih buruk. Modal yang dilaburkannya terancam tidak bisa kembali. Disangkakan untung, yang mungkin terjadi adalah kerugian. Dia yang tadinya sudah tenang, kembali menjadi khuatir. Kemudian dalam kesempatan zikir setelah solat, dia pun kembali memasrahkan diri kepada Tuhan. Dia yakin, pertolongan Tuhan sangat dekat. Di sebalik ujian, pasti ada kemudahan. Dia yakin, ujian ini tidak akan lama, dan pada akhirnya pasti Tuhan akan menyelamatkan pelaburannya.


Hari berikutnya, berita datang lagi, bahawa keadaan benar-benar semakin tidak bisa dipulihkan. Hilangnya modal sudah di depan mata. Dia pun tidak bisa membohongi diri, kalau hatinya benar-benar khuatir dan putus asa. Belum pernah dia rasakan keputusan yang sedemikian dalam. Terbayang dalam fikirannya, bahawa di bulan-bulan selanjutnya dia harus membayar hutang ke bank puluhan juta, atas sesuatu yang dia tidak pernah rasakan manfaat dan keuntungannya.

Dia mulai berprasangka buruk kepada Tuhan. Dia merasa malas mengerjakan solat dan zikir, kerana ternyata kenyataan yang terjadi lain dengan yang diyakininya.
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.[QS33:10-11]

Bukankah sebelumnya aku sudah mohon petunjuk kepada-Mu ya Tuhan? Bukankah kesejukan dan ketenangan dalam diriku berasal dari-Mu ya Tuhan? Tapi kenapa jadi seperti ini?


Dia menjadi ragu, apakah Tuhan masih akan menolongnya. Benar-benar kacau keadaan hati dan fikirannya saat itu. Namun tidak lama, hanya kurang dari setengah jam dia merasakan seperti itu. Dia pun ingat yang diajarkan gurunya,

"Segala rasa seksa, itu datangnya dari shaitan." Lalu ia pun sedar, bahawa shaitan dalam dirinya sedang mengelabui dan menutup hatinya. Mencuba agar dia berputus asa dan berpaling dari Tuhan. Melalui fikiran dan nafsu, setan menampilkan gambaran yang buruk-buruk tentang apa yang akan terjadi kemudian. Dan shaitan itu bukan siapa-siapa, tetapi bahagian negatif dari keduanya, dari dirinya sendiri. "



Dia pun berteriak kepada nafsu dan fikirannya,"Wahai nafsu dan fikiranku. Diam kau sekarang. Kalian mahu diselamatkan atau tidak. Kalau mahu, mari bersamaku berwudhu’ dan menghadap Tuhan."Keyakinannya kepada Tuhan tumbuh lagi. Dalam zikir dia bertanya kepada Tuhan tentang hikmah semua ini. Kesalahan apa yang telah dilakukannya. Apa yang dikehendaki Tuhan atas dirinya.

"Jika kau hanya mahu kenikmatan, dan menolak penderitaan, maka bukan sifat Tuhan yang kau pelihara dalam hatimu. Jika kau mahu menjadi khalifah, menjadi wakilKu, maka kau harus mahu menerima kedua-duanya dengan ikhlas."

Sahabatku pun menangis di hadapan Tuhan. Menyesali kebodohan yang baru saja dia lakukan. Menyesali dirinya yang hampir-hampir masuk dalam golongan orang fasiq, orang-orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah.

"Belum disebut beriman kamu, jika belum pernah diuji dan belum lulus ujian penderitaan.”


Tangisnya pun semakin dalam. Bukan kesedihan, tetapi rasa syukur yang dalam kerana telah diuji oleh Tuhan. Diberi kesempatan untuk menjadi orang beriman. Ada harapan untuk masuk golongan orang beriman."Ya Tuhanku, dulu aku tiada, sekarang aku tumbuh dengan lengkap sempurna. Dulu aku tidak punya harta, lalu Engkau anugerahi aku, dan sekarang Kau ambil lagi milik-Mu. Kenapa aku sedih dan khuatir ya Tuhan, atas hilangnya sesuatu yang bukan milikku. Betapa bodohnya aku ini. Betapa aku lupa siapa aku ini. Sungguh jika Engkau tidak ingatkan aku dengan ujian ini, pasti aku termasuk orang yang lupa diri selamanya. Ampuni aku ya Tuhan, atas kebodohanku ini.."


Dalam tangis dan zikirnya, dia membuka surat Alam Nasyrah.


"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu. Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap."



Tiada terkira syukur nikmat yang dia rasakan. Nikmat iman dan kedekatan dengan Tuhan. Terasa seperti dalam pelukan kekasihnya. Teringat bagaimana kekhuatiran dalam hatinya dihilangkan, dan diganti dengan syukur. Terbayang saat-saat yang penuh beban kemudian menjadi seringan kapas.


Dan sahabatku pun menjadi tidak lagi peduli dengan kerugian, kehilangan, dan kegagalan. Semua dari Allah, dan sekarang kembali kepada-Nya lagi. Dia pun segera kembali bekerja, seolah tiada masalah yang terjadi. Dia teringat perintah Tuhan agar tidak banyak berangan-angan, khuatir, memikirkan kemungkinan- kemungkinan buruk yang bakal terjadi, dan besarnya nilai kerugian yang dialami. Tidak ada waktu lagi untuk itu, yang ada adalah "mengerjakan dengan sungguh-sungguh urusan yang lain," iaitu pekerjaannya.


Beberapa hari kemudian berlalu dengan normal. Apapun berita tentang pelaburannya sudah tidak lagi menarik hatinya. Namun sebenarnya masalah masih ada. Hutang tetap hutang, dan harus dibayar! Suatu hari, datang berita lagi, setidaknya untuk saat itu modal dia benar-benar tidak bisa diharapkan kembali. Bisnes yang diikutinya sudah gulung tikar. Mereka yang mengurus bisnes tersebut sedang dalam penyelidikan polisi dan hukum. Dia pun teringat kembali, dari mana harus membayar hutangnya. Minggu depan sudah harus membayar hutang. Kalau tidak bisa, akan dimasukkan daftar hitam oleh bank dan kenderaanya disita.
Dia memang sudah tidak peduli dengan modal yang hilang. Tetapi masalah masih akan timbul seandainya dia tidak mampu melunaskan segala hutangnya pada bank.
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.” [QS3:186]


Seperti biasa, sahabat saya yang menjadi rajin mendekatkan diri kepada Allah sejak ujian ini, merenung dengan hatinya dan berzikir. Dia sudah ikhlas dan memasrahkan semua urusan kepada Tuhan. Dia sudah tidak pernah memohon agar diringankan atau dikembalikan modalnya. Dia yakin, semua memang sudah diatur oleh Allah untuknya.Kenapa harus meminta yang aneh-aneh yang mungkin di luar scenario Allah? Oleh kerana itu, doanya hanyalah "agar diberi penerang dalam ujian ini, dan diberi akhir yang terbaik."


Dalam zikirnya dia mendapat penjelasan. Ada beberapa kesalahan yang dia lakukan dalam bisnes itu. Pertama, adanya niat dalam hati untuk "bebas dari masalah kewangan yang membelenggu". Berharap memperoleh pendapatan pasif sehingga merasa cukup dari sudut material dan tidak perlu lagi khuatir soal wang. Ternyata, hal ini bisa menggelincirkan hatinya pada kemusyrikan yang lembut. Kemusyrikan yang ditimbulkan oleh harta. Bagi Tuhan, jika dia merasa tenang kerana kecukupan material, atau "bebas financial", maka itu sama saja dengan kemusyrikan. Sebab dia merasa tenang bukan kerana Allah. Dia tenang kerana sesuatu selain Allah. Belum saatnya bagi dia untuk mengalami "bebas financial" ini, kerana pasti akan terjerumus. Suatu saat jika sudah tiba waktunya, pasti akan dianugerahi oleh Allah kebebasan ini. Namun saat itu dia sudah siap, sehingga tidak tertipu oleh kesenangan material. Ujian ini untuk mempersiapkan dirinya.


Kedua, adanya keinginan untuk bisa membantu lebih banyak orang dengan banyaknya harta yang dia miliki nanti.Bukankah ini niat yang baik? Benar, tetapi ternyata keinginan ini bisa menipu dengan halusnya. Ada kesalahan dalam keinginan tersebut, iaitu sesungguhnya bukan dia yang membantu manusia lain, tetapi Tuhan. Jika benar terjadi dia bisa membantu banyak orang, pasti dia akan tertipu oleh rasa dirinya, oleh pengakuan dirinya. Pengakuan bahwa "aku telah beramal soleh dengan membantu banyak orang." Lalu muncul kepuasan dan kebanggaan spiritual yang tidak dia sedari. Tidak seharusnya dia memiliki rasa seperti itu, kerana semua harus dikembalikan kepada Tuhan. Dirinya dipakai oleh Tuhan untuk menolong orang lain, tetapi bukan dia yang menolong. Kesedaran ini harus tumbuh terlebih dahulu, sebelum dia benar-benar menolong orang lain nanti. Dan ujian ini yang mengajarinya. Mengajarkan makna "Bismillah", "Atas nama Allah", "dengan nama Allah". Ertinya ketika dia membantu orang lain, saat itu dalam hatinya harus disedari bahawa yang membantu adalah Tuhan, bukan dirinya. Tuhan sedang menggunakan wadahnya untuk membantu orang lain. Dan tidak sepatutnya dia mengakui itu sebagai amal perbuatannya.


"Ya Tuhan, betapa Mulianya Engkau. Aku membeli ujian ini dengan modal yang tidak seberapa, dan itupun dari-Mu, harta milik-Mu. Namun manfaat yang kudapatkan sungguh tiada ternilai dengan apapun. Betapa bodoh jika aku masih menyesali hilangnya harta itu ya Tuhan."

Demikian katanya lirih dalam hati.Happy ending? Belum...Hutang tetap hutang, dan harus dibayar. Dia pun harus kembali ke alam nyata. Harus tersedar lagi dari tafakkur dan zikirnya, dan menghadapi bulan-bulan berikutnya dengan tekanan dan mungkin penderitaan. Apa yang telah dia dapatkan, sekali lagi, harus dibuktikan dengan kenyataan. "Ya Tuhan, ini adalah minggu-minggu yang berat bagiku. Seperti ditiup angin dan badai kencang. Aku sudah hampir tumbang, tapi Engkau selamatkan aku. Dan sekarang pun belum usai ujian ini ya Tuhan. Aku yakin Kau pasti menolong. Aku tidak minta apapun bahkan untuk Kau ringankan beban ini.Engkau Maha Tahu akan kemampuanku dan keterbatasanku lebih dari pengetahuanku sendiri. Berilah aku petunjuk-Mu, agar aku tidak khuatir lagi menghadapi hari-hari di depanku dalan mengharungi ujian-Mu ini."


Lihatlah pohon di luar jendela itu. Bukankah kau beberapa minggu ini tertarik memperhatikannya? Kau sudah lihat pohon itu dulu berdaun lebat. Lalu datang musim gugur. Daunnya menjadi kuning, rapuh, kemudian berjatuhan ditiup angin kencang. Musim dingin sudah berlalu, dan sekarang musim bunga. Kau lihat daunnya mekar, dari hari ke hari semakin lebat, dan sekarang seluruh cabangnya telah hijau kembali.Dari tahun ke tahun seperti itu. Sejak pohon itu kecil, hingga sekarang menjadi besar. Kau lihat, meskipun daunnya berjatuhan dan kembali mekar, bukan bermakna pohon itu semakin kecil. Tetapi semakin besar, semakin tinggi, semakin rendang.


Seperti itulah manusia yang beriman. Mereka tidak akan pernah lepas dari ujian, dari tiupan angin badai penderitaan. Kerana itulah makanan bagi keimanannya agar tumbuh subur. Namun selalu "sesudah kesulitan itu ada kemudahan", selalu ada yang bersemi, selalu ada kebahagiaan baru. Seperti pohon yang makin tinggi, iman mereka pun semakin meningkat.Kadang-kadang ada pohon yang tumbang kerana badai dahsyat. Namun selama akar pohon itu masih masuk ke dalam tanah, sumber bahan kehidupan, pohon itu tidak akan mati. Daun dan dahannya akan selalu tumbuh. Oleh kerana itu, tancapkan hatimu, akarmu, kepada Sumber Kehidupan, kepada Dzatullah. Maka kau akan selamat.

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” [QS7:205]


Pohon tidak pernah khuatir akan kehilangan daun untuk selamanya ketika daunnya berguguran. Apakah kamu tidak malu pada pohon itu? Belajarlah darinya.

Monday, November 13, 2006

Menulis di atas pasir….

Assalamualaikum wbt buat sahabat-sahabat yang ana kasihi fillah sekelian…terasa dah lama tidak mengetip keyboard untuk blog ana…aasifati dan rimbunan kemaafan dipinta atas kelemahan diri dan kapasiti yang ternyata terhad…ana hanyalah insan dhaif yang biasa…Allahu a’laam..

InshaAllah, entry kali ini ana tujukan buat sahabat-sahabat ana yang sangat ana rindui dan inshaAllah sentiasa dikenang dalam doa seharian ana…tiada apa yang ana mampu berikan..hanyalah sekeping hati yang menyayangi saudara-saudara seaqidah…teman seperjuangan kerana Allah SWT…ana mungkin pernah mengabaikan hak kalian sebagai seorang sahabat…atau mungkin ana pernah mengecewakan sesiapa atas sikap ana sendiri…justeru, ana kongsikan entry ini agar ianya dapat dimanfaatkan oleh sahabat-sahabat sekelian…semoga tautan hati yang diperkukuhkan dengan doa Rabithah ini bisa berkekalan hingga ke akhirnya….dan jalinan ukhuwwah ini diredhai Allah….kerana matlamat utama hidup sebagai musafir lalu ini adalah menggapai keredhaan Allah…sekali lagi…ana memohon kemaafan dan terima kasih teman-temanku…moga Allah memelihara kalian semua…Ameen.


Kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :

"HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU."

Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencuba berenang untuk menyejukkan galaunya.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi.

Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :

"HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU."

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya,"Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?"

Temannya sambil tersenyum menjawab,"Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil
apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu."

Dalam hidup ini sering timbul beza pendapat dan konflik kerana sudut pandang yang berbeza. Oleh kerananya cubalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Marilah kita belajar menulis di atas pasir!

Wallahu ta’ala a’laam…ana al-faqeerah ilallah…



Thursday, November 09, 2006

Remember Allah....anytime anywhere...

Allah has more patience than you can imagine. He would also like to teach you how to be patient with others. HE LOVES YOU so much that He is doing all these to you everyday even with all your ungratefulness to Him.

The landscape that He made is only for you, He does not need it...Well, you are getting up again...and just out of His love for you, He might give you another nice day!!!!

Or, will He?

Wednesday, November 01, 2006

Erti Kebahagiaan....


“Sesungguhnya kebahagiaan itu ialah, anda hidup
untuk pemikiran yang benar dan kukuh
untuk akidah terbesar yang menyelesaikan permasalahan alam yang lampau
persoalan yang disoal oleh orang yang tertanya-tanya
semasa mereka sedar dan cerdik boleh berfikir
Dari manakah aku datang?
Ke manakah aku hendak pergi?
Kenapa aku dijadikan?
Adakah aku hidup kembali?

Lalu bersinarlah keyakinan di dalam jiwa
terusir segala keraguan yang degil
terdidiklah fikiran yang waras
terciptalah akhlak yang mulia
dan kembalilah setiap akal yang menyeleweng kepada jalan yang benar dan lurus
hidupmu akan dikurniakan nilai
oleh Tuhanmu agar hidupmu terbina
supaya matamu memandang di segala ufuk
ke arah cita-cita yang tinggi

Lalu hiduplah kamu di dunia untuk akhirat
di sanalah kamu hidup kekal dan tidak fana'
kau tudung bumimu dengan langit
dan para malaikat menjadi saksi
itulah akidah Islam untuk muslim yang bahagia
itulah asas, itulah tiang serinya
Sesiapa yang hidup memikulnya sambil memekik
dengan namanya; dialah orang yang berbahagia…”


~ Dr Yusuf Al-Qaradhawi~


Sesungguhnya puisi yang indah itu lahir dari hati yang suci dan bersih....wallahu a'laam...

Three Required Characteristics for Seeking Knowledge...

Assalamualaikum wbt to everyone...just a piece of reminder for myself and may it benefit you all...Have a read...[A credit to Abu Anas for this nice piece of writing]...may Allah reward you good..Ameen

Tonight, we will begin with a very important and beneficial, Allaah-willing, introduction on the method of seeking knowledge. The reason for this talk is due to the great response and love for seeking knowledge that we see from the youth, may Allaah bless them. However, many of them are not aware of the correct method for acquiring it. How should one seek knowledge? Some of them spend a long time, maybe years, seeking knowledge but they don’t achieve the level that others have achieved during that same amount of time. The reason behind this is due to his lack of adhering to the correct methodology with regard to seeking knowledge. This is the methodology by which if a student of knowledge adheres to it, he will achieve a share of what Allaah had decreed for him – a share that will benefit him; a share that is firm and established, which he will be able to convey to others in a clear and doubt-free manner.


Many of the youth read various writings – sometimes on the subjects of Hadeeth and sometimes on the subjects of Tafseer and Fiqh. They listen to and attend the gatherings of the people of knowledge. However, when they go back and examine themselves – i.e. those who have attended lectures for a year or two – they find that they have not fully understood the subject matter presented to them. Or perhaps they find that they have not acquired a lot of knowledge from this. Their attendance of lectures and lessons has not provided them with a well-founded basis of knowledge, which they can use as a way and method to follow and judge by. The reason for this is due to the lack of adhering to the correct method for seeking knowledge.


So a student of knowledge must follow a clear and defined methodology when seeking knowledge. If he fails to do so, he will divert from the correct path, which is why we see that many of them get fed up and impatient with knowledge. They spend years studying, but then grow weary and tired and eventually give it up. Then some more years pass by and they go back to being regular common folk or reciters – something they never expected. So we would like for the new up and coming student of knowledge to abide by two characteristics:


First: He should adhere to the method of education that those people of knowledge before us adhered to, and due to which they became scholars, after having treaded upon this way.


Second: He should be prepared to sacrifice all of his time to seeking knowledge. And he must not get fed up with it regardless of what the situation is.


In his book “Al-Jaami’ Li-Akhlaaq-ir-Raawee wa Adaab as-Saami’”, Al-Khateeb Al-Baghdaadee reported: “One of the students of Hadeeth used to crave and yearn for seeking knowledge. So he would visit the elder teachers and sit in their gatherings. Then when some time had passed, he saw that he had not benefited at all and that he had not attained a great deal of knowledge. So he said: ‘I am not fit for this knowledge” and gave it up, since he thought that there was something wrong with his understanding or that he was not qualified for seeking knowledge. One day, after he had left off seeking knowledge for some time, he passed by a rock that had water falling on it, drop by drop. The continuous dripping of water had affected the rock to the point that it had made a hole in it. The man stood there for a while, contemplating and reflecting, and said: ‘This water, in spite of its softness, was able to have an effect on this rock, in spite of its hardness. And my mind and heart are not harder than this rock and neither is this knowledge any softer than the water.’ So he became determined to go back to seeking knowledge, which he did and excelled at. And he later became one of those referred to with regard to it.”


This shows you that a student of knowledge needs determination. He should not get tired and say: “I have studied and not learned anything!” Rather, he should go back to the cause. The cause is not found in his natural disposition. With regard to most of the youth or most of those who set out to seek knowledge, the cause is not that they don’t understand. Many of them do understand, but the reason why they are not able to acquire knowledge is because they have not followed the correct path and methodology, which produced the people of knowledge that came before us. This path is simple and easy, and it is easier than the paths that many of the people take today.


Once this point becomes clear, the following important question should come to mind, which is often repeated and which many of the youth continuously ask, and it is: What is the correct way for seeking knowledge? How should a student of knowledge follow this way in accordance with the methodology that will enable him to become a (true) student of knowledge and have the ability to study, if Allaah grants him success in that? This is an extremely important question. Attending the gatherings of knowledge has many benefits to it – the greatest of which is that the student of knowledge comes out from these sittings fully understanding the subjects presented to him such that he is able to make others understand what he has understood.


First: The student of knowledge must have the following necessary and binding characteristics and attributes in his quest for attaining knowledge:
  1. The first and greatest of these characteristics is that he must be sincere to his Lord when seeking knowledge. This is since seeking knowledge is an act of worship and the angels, as stated in an authentic hadeeth, lower their wings for the seeker of knowledge out of contentment for what he is doing. So this act of worship must be done sincerely for Allaah’s sake in order for it to be accepted and blessed by Allaah. This means that one should not seek knowledge in order to achieve some worldly position. One should not seek religious knowledge – knowledge of the Qur’aan and Sunnah – for the sake of status or to be heard or so that he may become a teacher or a lecturer or famous or so that he can give lessons and so on. Rather, his intention behind seeking knowledge should be to worship Allaah and remove ignorance from himself. This is so that he may worship Allaah upon knowledge and clear insight.

So therefore, being sincere in seeking knowledge means that (1) one’s intention is for the sake of Allaah and not to attain some worldly position; and that (2) one intends to remove ignorance from himself. Imaam Ahmad was once asked: “How should one have sincerity with regard to knowledge?” He replied saying: “Sincerity in knowledge is that a person intends to uplift ignorance from himself. This is since a person with knowledge and a person that is very ignorant are not equal.”

Allaah says: “Is one who is obedient to Allaah, prostrating himself and standing in prayer during the hours of the night, fearing the Hereafter and hoping for the Mercy of His Lord (like one who disbelieves)? Say: Are those who know equal to those who don’t know?” [Surah Az-Zumar: 9]

And He says in Surah Al-Mujaadilah: “Allaah will raise those who believe amongst you and those who were given knowledge many levels.” [Surah Al-Mujaadilah: 11]

So Allaah has given preference to those who have knowledge over those who don’t. The person who seeks knowledge in order to worship Allaah upon clarity and to remove ignorance from himself and so that he can live his life in accordance with what Allaah has legislated – this is the one who is truly sincere (in his search for knowledge). He is sincere because his intention was for the sake of Allaah. His intention was to free himself from being a follower of desires and from being ignorant and a blind follower.

Sincerity is the first of these conditions and the primary characteristic and attribute that the student of knowledge must have. The proper characteristics and attributes one should have are many, such that numerous books and writings, big and small, have been authored on them. However, we will only mention from those characteristics, those that concern us in this discussion.

Second: One must apply gentleness and proceed in a slow and calm manner in his search for knowledge. This is since the Prophet (sallAllaahu 'alayhi wa sallam) informed us, in general terms, saying: “Verily, Allaah loves gentleness in every affair.” Seeking knowledge falls under this in the general sense. The Prophet (sallAllaahu 'alayhi wa sallam) also said: “Gentleness does not enter something except that it beautifies it.” Knowledge and studying fall under this.

What does it mean to “apply gentleness?” It means that one should not seek to achieve knowledge all at once, as Ibn Shihaab Az-Zuhree, the famous Imaam from the Taabi’een, once said: “Whoever seeks to attain knowledge in one shot, it will leave from him in one shot. Rather, knowledge is to be sought with the passage of days and nights.”

A poet elaborated more on this understanding, saying:

“Knowledge today and tomorrow the same, By doing this a man will attain wisdom, Through choosing knowledge, which is to be gathered, Since a stream is nothing more than a collection of droplets.”

So gentleness is something that is required. But how is this gentleness to be applied? It is by not desiring to attain knowledge all at once, i.e. in one shot. For example, a person wishes to gain knowledge of Tafseer, so he goes and reads the “Tafseer” of Ibn Jareer. The Tafseer of Ibn Jareer contains all aspects of Tafseer. So this person has sought to attain knowledge all at once. It is not possible for one to “start” and “finish” the Tafseer of Ibn Jareer. And if you were to ask him a question regarding it, nothing from the Tafseer would stick to his mind except for a small portion. He remembers that he read this and that he read that. But he will not be able to properly explain to you the meaning of a verse in the manner that is necessary. So then how is this gentleness to be applied? It is by seeking knowledge in gradual stages – this is the way that must be adhered to.

Likewise, we have the example of a man who intends to study the Science of Hadeeth, so he goes to the book “Nail-ul-Awtaar”, and begins with that, or he goes to “Fat’h-ul-Baaree” and says: “That’s it. I finished one chapter from Fat’h-ul-Baaree.” You should know that this type of person will never achieve the level of understanding that the people of knowledge are upon. He may become well-versed or an informed reader having scattered bits of information. But this is not the knowledge that serves as a foundation and which afterward will propel the one who has it to the level of a scholar, if Allaah so grants it.

The same goes for Fiqh. What have you read concerning Fiqh? He says: “I am reading “Al-Mughnee” or “I am reading the “Majmoo’ (-ul-Fataawaa).” It can be honestly said that this person has not applied gentleness in his search for knowledge. He has sought to attain knowledge all at once. “Al-Mughnee” and “Al-Majmoo’” as well as the other larger works – the only ones who should preoccupy themselves with the (Fuqh) issues contained in them are the people of knowledge. As for the beginning student of knowledge, he should not read it from beginning to end. No doubt, he will at some point need to conduct research on a specific issue, in which case he will have to refer to the larger works. However, he should not read these books thoroughly as if he were reading through a novel.

Also, from the requisites of gentleness is that a student of knowledge should not preoccupy himself with the complex intricate issues. This is since, if while seeking knowledge, he preoccupies himself with intricate issues and complex subjects, he will eventually forget it and never acquire knowledge. The reason for this is because he has not established the proper foundation by which he can understand these complex and intricate (Fiqh) issues. Some of us go to classes that deal with extremely complex issues in which the students spend numerous long years and still have not finished it or they spend months on just one chapter alone, and so on, and they think that they have acquired knowledge. No. This is not the correct way since they has have not applied gentleness. And Allaah, the Mighty and Sublime, says: “But rather, be you Rabbaaniyeen (learned men) because of your teaching the Book and studying it.” [Surah Aali ‘Imraan: 79]

Concerning the part of the ayah: “Be you Rabbaaniyeen”, Abu ‘Abdillaah Al-Bukhaaree, may Allaah have mercy on him, interpreted it by saying: “The Rabbaanee is he who nurtures the people using the smaller aspects of knowledge before the bigger ones.” So this person who is well-versed in knowledge and teaching is he who raises the people upon the smaller aspects of knowledge before the bigger ones.

It is honorable for an instructor or student of knowledge, when teaching, to mention everything he knows about a specific issue. After preparing his lesson, he should mention everything that he remembers on the subject. This is an honorable characteristic. However, this is not beneficial for the one who is teaching since he is reviewing what he knows. The person with knowledge should only deliver what the audience needs. He should not deliver to the audience that which is over their level.

So one must apply gentleness – How should this gentleness be? The reply to this will come when we explain the correct method of seeking knowledge, and that is by seeking knowledge in stages.

Third: He must be persistent in his search for knowledge, giving it the dearest and sweetest parts of his time, and not the dead and lifeless parts of it. So if an individual reserves for knowledge and classes the times in which his mind is exhausted and his understanding is weak, he has opposed the correct method of seeking knowledge and is not being sincere to himself.

So therefore, you should give knowledge the best moments of your time, in which your mind is clear, strong and unoccupied. However, this will only happen if there is something else accompanying it. And that is when the student of knowledge is engulfed in knowledge day and night. He wakes up in the morning with knowledge filling his mind and he passes the evening in the same manner. His life revolves around knowledge.

When he wants to sleep, he has a book next to him, which he may need to reference for a particular (Fiqh) issue. This is why some of the scholars say: “If you see the books of a student of knowledge neatly arranged in order, then know that he has abandoned (reading) them.” If you pay an unexpected visit to a person and enter his library to find his books neatly arranged – each book in its proper place – this means that he does not look into them. There is no book on the floor, nor is there any book beside him, and if he has a table, there are no books on top of it – this indicates that he reserves a particular time for “reading”, as done by some hired educators. There is no such thing as ”study time” for the student of knowledge! This is because all of his time is spent in seeking knowledge. In the morning and in the evening, his mind is preoccupied with the various issues of knowledge.

The best period of time in a person’s life in which he can acquire knowledge is in the period of his adolescence. This is when he can devote all of his time to it. He should distribute his time for the various aspects of knowledge, leaving the best portions of it in which his memory is strong to the sciences that require the mind to be overworked, such as the sciences of Jurisprudence (Fiqh), Fundamental Principles (Usool), Grammar (Nahu) and so on. As for normal times, he should reserve that for subjects that do not require his mind to be overworked, such as the subjects of Interpreting the Qur’aan (Tafseer), Narrations (Hadeeth), Terminology of the Hadeeth (Mustalah) and so on. And the times in which his comprehension is at the weakest level, he should use for reading books on etiquettes, books on narrators, the biographies of narrators, history and so on – general learning.

So he is constantly preoccupied wherever he is. He is always busy with seeking knowledge. No amusement or company can deter him from that. This is why we see that the biggest mistake that some who think that they are students of knowledge commit is that they spend long hours in gatherings engaged in he said/she said talk and speech that does not result in knowledge. He will not become a student of knowledge this way. Rather, he will become something else depending on what he preoccupies his time with.

As for the student of knowledge, then his hopes, desires and aspirations are all preoccupied with seeking knowledge. The gathering in which there occurs discussions on seeking knowledge and a clarification of what Allaah has revealed in His Book or what the Messenger of Allaah (sallAllaahu 'alayhi wa sallam) has stated – this is the place in which one can open his heart and broaden his mind. Or it could be in a place of education or in a place where there is an explanation of the knowledge that Allaah revealed. This is the place where the heart finds ease and relaxation.

So therefore, from the required characteristics that a student of knowledge must have is that he constantly engulf himself with knowledge. He should not give knowledge some of his time. Rather, he should give all of his time to it or a portion of it, such as the period of his adolescence – the period in which it is easy for one to acquire knowledge. This is why some of the predecessors would say: “Give knowledge all of yourself, and it will give you some of itself.” This is since knowledge is vast and its aspects are numerous and diverse. This is why when one of the Imaams of Hadeeth was on his deathbed, he would still be narrating hadeeth, telling his scribe to write it down – knowledge that was obtained even in a situation such as this.

This shows you the extent of his sincerity, following (of the Religion) and the fact that his heart was engulfed in knowledge. When Imaam Ahmad was suffering from his final sickness, at times, he would feel pain and groan out loud. So when one of his students came and heard him, he narrated to him with a chain of narration from Muhammad bin Sireen that Anas bin Maalik (radyAllaahu 'anhu) used to consider it detested (makrooh) to groan. After that, he did not hear Ahmad groan again until he passed away.

This mentality on the part of the student and the teacher is that which will enable the student of knowledge, through the Grace of Allaah, to become a scholar in the future, if Allaah wills. And this is the mentality which will enable him to benefit and cause him to always be preoccupied with knowledge – day and night, he is learning. He should not look down upon a point of benefit that comes to him by way of someone that is young in age or old in age. Some people receive points of benefit from individuals that are younger than them (in age and knowledge), and so they feel arrogant towards him or they don’t give that point their full attention. The reason for this is because they have elevated themselves over the knowledge. And when one elevates himself over knowledge, he will not be from those who are able to acquire it.

Rather, a younger or smaller person may have some knowledge that an older or bigger person doesn’t. And likewise one who is younger or smaller may understand some aspects of knowledge whereas one who is older and bigger may not. But if he explains it to him, he should benefit from it. The scholars have mentioned a clear example for this, which is the story of prophet Sulaymaan and the hoopoe bird. Even though the hoopoe bird was lowly in terms of stature and composure and Sulaymaan was elevated in terms of stature, composure and position in the sight of Allaah and before all of creation, the hoopoe bird said to him: “I have grasped knowledge of something that you have not grasped. And I have come to you from Saba’ (Sheba) with certain news.” [Surah An-Naml: 22]

So the hoopoe bird knew something that Sulayman was unaware of. The people of knowledge have derived from this story that you should not be arrogant with someone that brings you a point of benefit (from knowledge), regardless if he is young and lowly or old and prominent.

These three characteristics are extremely important for the student of knowledge. There are other characteristics besides these, as I mentioned before to you, which you should look up in the books that were written about this subject.

Wallahu ta'ala a'laam....Barakallahu fiikum abadan abada....